SOKOGURU PEWARISAN TERAPI BERPIKIR POSITIF

oleh -393 views
AAG. Putera Semadi

Dwijendranews.com| Opini| Berpikir positif termasuk salah satu ide dalam proses pembudayaan yang cukup berat diemban, serta merta bagian dari kebiasaan hidup yang mengalir bersama sang waktu sebagai kewajiban manusia untuk melakoninya. Hanya saja seberapa jauh orang-orang berdaya untuk memanfaatkannya, bahkan mengimplementasikan konsep dan teks itu ke dalam konteksnya. Apakah itu berarti bahwa pikiran manusia memiliki proses yang kuat, atau mungkin  sebaliknya: lemah? Dari mana titik sentral awal pembentukan sekaligus pewarisan kekuatan pikiran itu datang?

Ibrahim Elfiky, penulis buku Terapi Berpikir Positif (2015), juga seorang pendiri dan ketua beberapa perusahaan berskala internasional, salah satu di antaranya: Pusat Pemrograman Bahasa Saraf di Kanada (CTCNLP), mengatakan bahwa berpikir itu sederhana dan hanya butuh waktu sekejap. Namun, ia memiliki proses yang kuat dari tujuh sumber yang berbeda. Entah disadari atau tidak, ketujuh sumber itu ( Orang tua, Keluarga, Masyarakat, Sekolah, Teman, Media massa, dan diri sendiri) dapat memberi kekuatan luar  biasa pada proses berpikir dan menjadi referensi bagi akal yang digunakan setiap orang.

Dalam menyimak sumber proses kekuatan pikiran yang pertama, yakni “Orang tua”, Ratu Elizabeth II bercerita; “Aku belajar seperti proses belajarnya seekor  kera yaitu dengan menyaksikan orang tua dan meniru mereka”. Makna apa yang bisa diinternalisasi dari pernyataan pendek yang padat nilai itu? Tentu banyak yang dapat kita gali antara lain: dari orang tua kita belajar tentang kata-kata, ekspresi wajah, gerakan tubuh, perilaku, norma, kepercayaan/keyakinan agama, prinsip, etika, kreasi seni-budaya, nilai–nilai luhur, dan lain sebagainya. Itulah proses berpikir yang pertama di dunia ini. Kita diwariskan dan mewarisinya dari orang tua sendiri, yakni orang yang paling penting dalam membentuk proses kekuatan berpikir positif. Elfiky menyebutnya hasil proses pewarisan ini kemudian mengakar dalam diri lalu menjadi referensi utama ketika berinteraksi dengan diri sendiri atau dengan dunia luar.

Jadi, rasanya kita tak akan kuasa mengelak bahwa esensialnya “Orang tua” merupakan sumber pertama proses pembentukan sekaligus pewarisan kekuatan pikiran positif. Orang tua adalah mahaguru inspiratif utama dan pertama yang mewariskan kebudayaan agar kita bisa berkreasi, berkarsa, dan berkarya. Dengan demikian, orang tua pun sebagai sokoguru pewarisan terapi berpikir positif kita, sebelum keluarga, masyarakat, sekolah, teman, media massa, dan terakhir diri sendiri. *)

*) Penulis

AAG. Putera Semadi

Dosen Fakultas Hukum, Dwijendra University

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.