Upacara Entap Dinding/Siding Dan Poro Putes Sebagai Tradisi Manggarai Dalam Acara Kelahiran Anak

oleh -83 views
Patrisius Jana

Dwijendranews.com| Opini| Upacara kelahiran/pesta kelahiran/tae loas dalam budaya Manggarai merupakan suatu tradisi turun-menurun, yang dilakukan pada saat sudah bersalin atau anak baru dilahirkan. Upacara-upacara yang dilakukan adalah seperti entap dinding/siding dan poro putes.

Entap dinding

Entap dinding (entap artinya pukul/memukul, dan dinding/siding artinya sekat rumah/bilik. Entap dinding dalam istilah tae loas berarti memukul sekat rumah/bilik. Jika sudah bersalin, maka acara entap dinding ini dilakukan. Seseorang akan ditunjuk untuk melakukan hal tersebut terutama kepala keluarga, untuk memukul sekat/bilik rumah dari luar sesuai dengan sekat/bilik kamar bersalin. Bilik tersebut dipukul dengan menggunakan tombak atau bambu runcing (korung), dan sambil bertanya dalam bahasa Manggarai yang khas “ata pe’ang ko ata one?” (orang luar ataukah orang dalam). Kemudian orang-orang yang berada dalam kamar bersalin tersebut menyahut/menjawab pertanyaan tersebut. Jika anak tersebut adalah laki-laki maka Ia disebut  “ata one” (orang dalam). Jika yang dilahirkan bayi perempuan, maka Ia disebut “ata pe’ang” (orang luar).  Setiap 1 (satu) pukulan, maka 1 (satu) pertanyaan juga, dan dijawab juga hanya sekali. Aturan memukul bilik tersebut hanya sebanyak 3 (tiga) kali, maka pentanyaan juga hanya 3 (tiga) dan menjawab pun 3 (tiga) kali juga.

Alasan menggunakan bahasa ata one (orang dalam) dan ata pe’ang (orang luar), karena sesuai denga sistem perkawinan Manggarai yang menganut sistem patrilineal (mengikuti garis keturunan ayah). Anak laki-laki setelah kawin akan tetap tinggal pada marga orang tua kandungnya, sedangkan anak perempuan setelah kawin harus meninggalkan kampung halaman, orang tua, dan mengikuti marga suaminya, Marzuki Usman (dalam Adi M. Nggoro, 2006:14).

Bukan hanya entap dinding/siding saja, tetapi jika rumah dari yang bersalin adalah rumah panggung (mbaru tenda), maka di kolong (ngaung) dari rumah tersebut terutama pada kolong yang lurus dengan kamar bersalin, akan menaruh batang jeruk yang berduri dan berdaun (rengka nderu karot ata manga saung). Acara ini dilakukan untuk mengusir setan atau jin. Menurut kepercayaan orang Manggarai yang dahulu, bahwa pada saat melahirkan setan dan jin akan datang dan berkumpul.

Poro Putes

Poro putes adalah suatu proses memotong tali pusar bayi yang baru dilahirkan atau baru keluar dari rahim ibunya. Poro putes bisa dilakukan sebelum maupun sesudah entap dinding/siding.  Alat untuk memotong tali pusar ini adalah dengan menggunakan lampek. Lampek adalah sejenis alat tajam yang terbuat dari bambu yang kering yang dibuat tajam menyerupai pisau. Ukurannya hampir sama dengan pisau yang ukuran sedang. Alasan alat dibuat karena bahannya tidak berkarat. Jika tali pusar tersebut dipotong dengan menggunakan pisau atau gunting dapat menyebabkan infeksi pada tubuh bayi, karena pisau dan gunting adalah benda yang dapat berkarat.

Kedua tradisi di atas sudah hampir hilang seiring dengan perkembangan zaman dan majunya teknologi terutama dalam dunia medis. Tradisi ini merupakan tradisi turun temurun. Dimana dahulu dilakukan karena belum begitu banyak rumah sakit dan tenaga medis. Pada era sekarang, dengan tenaga medis dan fasilitas rumah sakit yang mumpuni, orang-orang Manggarai yang bersalin lebih memilih bersalin di rumah sakit, agar mudah dikontrol oleh para medis. Tradisi ini sudah tidak lagi dipakai oleh masyarakat di perkotaan dan di desa-desa yang lumayan maju. Akan tetapi upacara entap dinding dan poro putes ini, masih tetap digunakan oleh masyarakat di kampung-kampung yang masih kental dengan adat-istiadat. *)

*) Penulis

Patrisius Jana

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP, Dwijendra University

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.