TINGKAT PENDIDIKAN MENJADI TOLAK UKUR BELIS ( MAHAR ) GADIS DI MANGGARAI

oleh -73 views

Dwijendranews.com|Opini|Tradisi belis sangat lekat dengan masyarakat di Indonesia Timur, khususnya masyarakat di wilayah Manggarai,Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam konteks Indonesia sebenarnya merupakan tradisi yang relatif umum, yakni pemberian mas kawin dari pihak calon pengantin laki-laki kepada pihak calon pengantin perempuan. Akan tetapi masyarakat Manggarai memaknai belis sebagai bentuk penghargaan atau penghormatan dari kaum lelaki terhadap kaum perempuan Manggarai. Selain dipandang sebagai tradisi yang memiliki nilai luhur, belis juga dianggap sebagai syarat utama dalam proses perkawinan adat sakral antara calon mempelai laki-laki dan perempuan.

Pada era 90-an belis berupa  hewan dan tanah, namun seiring dengan berjalannya waktu dan pola pikir masyarakat Manggarai, belis tidak hanya ditekankan pada tanah dan juga hewan tersebut, melainkan berupa uang tunai,serta jenis barang lainnya yang memiliki nilai. Hal ini menyebabkan adanya pergeseran atau perubahan makna belis, yang dulunya dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada kaum perempuan. Saat ini lebih mengarah pada “jual beli anak perempuan”atau lebih dikenal dengan negoisasi. Hal ini  akan menjadi momok menakutkan bagi kaum laki-laki yang  ingin menikah.

Kata cinta bukan modal untuk menghantarkan sebuah hubungan kepelaminan, akan tetapi untuk melengkapi itu semua ada persiapan material yang kemudian dimaknai dengan kata belis. Belis sekarang mengalami perubahan makna. Belis lebih mengarah pada kesepakatan berapa jumlah nilai uang yang harus diserahkan pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Kedua pihak akan melakukan negoisasi. Hal ini dibuktikan pada saat masing-masing juru bicara(tongka) dari kedua bela pihak yang bertemu di sebuah rumah adat (mbaru gendang) untuk mendiskusikan mengenai nominal belis yang diberikan oleh pihak perempuan terhadap pihak laki-laki.

      Tongka (juru bicara) yang dimaksud disini adalah salah satu tokoh masyarakat yang di percayai oleh masing-masing  pihak sebagai juru bicara, karena ia memiliki kemampuan berbicara adat yang baik. Proses pembicaraan mengenai keputusan nominal belis memerlukan waktu yang cukup lama, tetapi kadang juru bicara ( tongka) justru tidak menemukan titik temunya. Disinilah terjadinya proses tawar menawar hal ini membuat hubungan kedua calon mempelai yang kandas di tengah jalan, dikarenakan pihak keluarga laki-laki tidak memenuhi tuntutan belis yang di tentukan oleh pihak keluarga perempuan.

Berdasarkan data yang saya dapatkan melalui proses wawancara via telepon kepada narasumber atau salah satu tokoh masyarakat yang sering dipercaya sebagai juru bicara (tongka) saat ini tepatnya di desa Tengku Leda kecamatan Lamba Leda Kabupaten Manggarai Timur, bahwa banyak sekali faktor yang menyebabkan meningkatnya nilai belis. Salah satunya adalah faktor latar belakang pendidkan baik dari kaum perempuan maupun kaum laki-laki. Semakin tinggi jejang pendidikan seseorang, maka akan semakin besar pula nilai atau nominal belis yang ditentukan.

Sebagai contohnya yaitu belis untuk seorang perempuan yang menyelesaikan pendidikannya dibangku SMA, maka standar belisnya berkisar 20 jt dan tidak termasuk hewan ternak, untuk tingkat pendidikan S1  besaran belis yang diberikan adalah sekitar 200 jt,dan seterusnya. Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi pula nali belisnya.*)

*) Penulis

Bergita Serina 

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan  Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Dwijendra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.