PENERPAN PIDANA KEPADA PELAKU “LIVE BUGIL” DI MEDSOS YANG MERUPAKAN “KEJAHATAN TANPA KORBAN (VICTIMLESS CRIME)”. PANTASKAH?

oleh -38 views

DwijendraNews.com| Opini| Banyak reaksi masyarakat muncul ketika polisi menangkap selebgram berinisal “RR” karena melakukan “live bugil” bahkan sampe mastrubasi di aplikasi Mango, beberapa masyarakat menyatakan bahwa, yang bersngkutan tidak merugikan siapapun kenapa harus ditangkap?

Kejahatan merupakan salah satu bentuk masalah sosial berupa penyimpangan yang dapat menggangu keseimbangan hidup bermasyarakat. Penyimpangan ini bisa terjadi dalam sekala kecil taupun besar. Pada dasarnya penyimpangan adalah bentuk prilaku yang dilakukan oleh seseorang yang tidak sesuai dengan norma dan nilai sosial yang berlaku di masyarakat. “Live bugil” merupakan salah satu bentuk penyimpangan yang dikategorikn kejahatan tanpa korban “Victimless crime/ crime without victime”. “Live bugil” adalah aktivitas telanjang yang memperlihatkan sebagian atau seluruh anggota tubuh yang dilakukan melalui siaran langsung mengunakan jaringan internet yang tentnya bisa ditonton oleh banyak orang dari semua kalangan.

Live bugil” salah satu perbuatan melawan hukum yang bisa diancam dengan pasal 4 ayat (1) UU No.4 tahun 2008 tentang pornografi dan pasal 45 ayat (1) UU ITE dengan ancaman pidana penjara paling lama 12 tahun. Namun apakah wajar ketika tidak ada korban, pelaku harus berujung ke pidana?

Ada beberapa kejahatan tanpa korban (victimless crimes) yang diatur dalam hukum positif di Indonesia seperti : perjudian, aborsi, penyalahgunaan narkotika, prostitusi, aborsi dan juga termasuk pornografi. Kejahatan ini merupakan “mala prohibita” yaitu perbuatan yang dianggap kejahatan karena diatur sedmikian rupa oleh undang-undang. Menurut Jeremy Bentham perbuatan yang tergolong mala prohibita dapat berubah (immutable), artinya dalam ruang waktu tertentu  yang berbeda tindakan tersebut dapat saja tidak lagi diangap sebagai kejahatan.”Live bugil” suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia, merusak norma kesopanan dan kesusilaan yang menggangu keseimbangan dan keteraturan sosial. Walaupun secara kasat mata tidak menimbulkan korban, namun dampaknya bisa saja menimbulkan kriminalitas baru. Karena bisa ditonton oleh semua kalngan, termasuk remaja dan anak-anak yang belum mampu mengendalikan tingkat meosi, bisa saja mengakibatkan terjadi pelecehan dan pemerkosaan. Banyak terjadi kasus pemerkosaan akbiat menonton adegan porno.

Dalam teori relaif pemidanaan, memandang bahwa pidana/nestapa perlu diberikan untuk penegakan ketertiban masyarakat dengan tujuan mencegah kejahatan, baik untuk mencegah pengulangan yang dilakukan oleh pelaku ataupun orang lain. Sejalan dengan pemikiran Plato bahwa seorang bijak tidak menguhukum  karena melakukan dosa, namun agar tidak terjadi lagi dosa. Maka memberikan suatu ganjaran berupa pidana terhadap pelaku “video bugil” dimedsos merupakan hal yang pantas, sebagai akibat dari perbuaan tercela. Pidana dijatuhkan atas dasar perbuatan melawan hukum (obyektif/subyektif) dan kesalahan yang dapat dicela (actus reus mens rea). Namun penererapan dan penjatuhan pidana hendaknya memperhatikan manfaat dan harus berimbang dengan kesalahan yang dilakukan. Seperti yang dinyatakan oleh Jeremy Bentham bahwa pidana sama sekali tidak memiliki pembenaran apapun bila semata-mata dijatuhkan untuk sekedar menambah lebih banyak penderitaan atau kerugian kepada masyarakat.

 

*) Penulis

I PUTU ANTON MAHA DIPPAYANA

MAHASISWA MAGISTER ILMU HUKUM

UNIVERSITAS DWIJENDRA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *