Kilas Budaya Daratan :  Percaya atau Tidak

oleh -56 views
https://www.payanadewa.com/2020/03/ciri-ciri-orang-yang-benar-benar.html)

Dwijendranews.com| Singaraja| Kata daratan mempunyai makna mengacu pada orang narat. Kata narat dan daratan tidak termuat dalam kamus Bahasa Bali. Kata narat mengacu pada  orang yang dalam keadaan kerauhan. Orang yang narat (kerauhan) disebut daratan.  Kata narat dan daratan merupakan istilah spesifik yang  digunakan di wilayah Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Di daerah ini, setiap ada upacara atau wali di pura, pasti ada orang narat. Pelaksanaan prosesi upacara sebelum umat melaksanakan persembahyangan didahului dengan prosesi mendak  Ida Batara.  Menurut kepercayaan masyarakat Ida Betara akan hadir dengan merasuki tubuh seseorang sehingga orang tersebut kerauhan. Masyarakat juga mempercayai orang yang kerauhan bukan saja dirasuki oleh Ida Betara tetapi juga dirasuki rencang  Ida Betara. Rencang  Ida Betara  seperti macan, naga, dan lain sebagainya. Orang yang kerauhan bisa berjumlah lebih dari satu orang bahkan dapat berjumlah puluhan.

Tradisi ini disebut Dresta, yang dapat diartikan sebagai sudut pandang masyarakat yang mengatur tata krama (etika) yang mengatur hubungan para anggota masyarakat dalam bersosialisai dalam lingkung wilayah yang terbatas dan memiliki kesamaan-kesamaan yang spesifik (desa adat/desa krama). Dresta ini bisa berlaku untuk suatu wilayah atau  hanya terdapat pada suatu desa.

https://www.payanadewa.com/2020/03/ciri-ciri-orang-yang-benar-benar.html)

Perbedaan dresta di masing-masing desa adat ini kemudian melahirkan pula pola ritual dan adat istiadat yang berbeda pula, istilah yang biasa digunakan di masyarakat Bali adalah Desa (tempat) Kala (waktu) Patra (keadaan). Disamping itu dikenal pula istilah Dresta (Catur Dresta) yang meliputi Purwa Dresta, sering juga disebut Kuna Dresta, adalah suatu pandangan lama yang muncul sejak dahulu dan terus dijadikan sebagai pedoman bagi generasi berikutnya. Loka Dresta, adalah suatu pandangan lokal yang hanya berlaku pada suatu daerah/wilayah. Desa Dresta, tidak jauh berbeda dengan pengertian Loka Dresta, di mana suatu pandangan yang sudah mentradisi dan hanya berlangsung di suatu desa tertentu saja dan Sastra Dresta, merupakan suatu pandangan yang dasar pijakannya adalah satra atau pustaka-pustaka agama yang mengacu pada kitab Weda dan lontar-lontar ajaran Hindu.

Daratan bisa dianggap sebagai kuno dresta karena dresta ini sudah ada sejak zaman dahulu dan dilaksanakan secara turun temurun. Daratan juga dapat dianggap sebagai loka dresta karena tradisi ini ada di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Masyarakat sampai saat ini masih mempercayai daratan. Masyarakat dapat meminta petunjuk pada Ida Betara melalui daratan misalnya meminta petunjuk  menentukan  pemangku di Pura Kahyangan Tiga. Di beberapa desa di Kecamatan Busungbiu, pemilihan pemangku tidak dilakukan dengan cara pemilihan tetapi melalui petunjuk Ida Betara melalui daratan.

Apakah semua masyarakat mempercayai daratan. Di beberapa desa masyarakat percaya pada daratan apabila daratan tersebut berani melakukan melabuh geni (menceburkan diri ke api) masyarakat akan mempercayai bahwa daratan tersebut telah dirasuki oleh Ida Betara. Bahkan ada beberapa desa apabila ada orang yang kerauhan, orang itu dipaksa untuk menceburkan diri ke api. Ini tentu sangat berbahaya. Agama terkadang susah untuk dirasiokan. Agama adalah soal kepercayaan.

Umat bisa percaya atau tidak dengan daratan. Kalau tidak percaya dengan daratan apa yang dikatakan selama dia kerauhan biasa diabaikan. Namun sebaliknya jika  mempercayai daratan, masyarakat perlu menyaring apa yang dikatakan daratan. Terkadang daratan itu “nuwus kalemah” artinya orang itu sebenarnya sudah sadar tetapi tetap berlaku seperti daratan. ( Suar Adnyana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *