Menyama Braya : Seberkas Cahaya di tengah Pandemi Covid-19

oleh -498 views
Luh Putu Ega Suratningtyas

Ibarat Perang Dunia Ketiga, hampir semua negara kini sibuk memerangi musuh yang tak nampak wujudnya namun dengan ganas memporak-porandakan aneka aspek kehidupan. Covid-19 masih menjadi isu panas yang bergulir di tengah masyarakat. Perlahan semua kian berbenah, berusaha beradaptasi dengan kebiasaan baru agar kegiatan dapat dilaksanakan maksimal ditengah badai covid yang masih melanda. Usaha dengan vaksinasi, sidak protokol kesehatan, dan aneka kebijakan di berbagai ranah terus digencarkan agar dunia cepat beranjak dari keterpurukan.
Situasi memang sulit, namun kepanikan berlebihan tak boleh menjadi pandemi baru. Sebuah kutipan menyentil dari Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus bahwa musuh terbesar bukanlah virus itu sendiri, tetapi ketakutan, rumor, dan stigma. Sedangkan kekuatan terbesar adalah fakta, penjelasan ilmiah, dan solidaritas. Dibanding stres takut terinfeksi atau memikirkan dampak buruk lainnya, bukankah lebih baik menggalang solidaritas untuk bersama memeranginya?
Disinilah peran penting kearifan lokal. Kearifan lokal berasal dari dua kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Wisdom berarti kebijaksanaan dan lokal berarti setempat. Local wisdom atau kearifan lokal dapat diartikan sebagai gagasan, nilai, pandangan setempat yang bersifat bijaksana, arif, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Sementara itu, menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2009, kearifan lokal merupakan nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat antara lain untuk melindungi dan mengolah lingkungan hidup secara lestari.
Adapun bentuk kearifan lokal dikategorikan kedalam 2 aspek yaitu kearifan lokal yang berwujud nyata (tangible) dan kearifan lokal yang tidak berwujud (intangible). Kearifan lokal yang berwujud nyata (tangible) juga kembali dibagai menjadi dua yakni secara tekstual dan bangunan atau arsitektural. Secara tekstual misalnya tata cara ataupun ketentuan khusus yang dituangkan ke dalam bentuk catatan tertulis seperti dalam primbon, kalender atau budaya menulis diatas lembaran daun lontar. Sementara contoh bangunan atau arsitektural yakni karya cagar budaya, misalnya keris, batik dan lain sebagainya.
Sementara kearifan lokal yang tidak berwujud contohnya petuah yang disampaikan secara verbal dan turun temurun yang bisa berupa nyanyian dan kidung yang mengandung nilai ajaran tradisional. Dengan petuah atau bentuk kearifan lokal yang tidak berwujud lainnya, nilai sosial disampaikan secara oral atau verbal dari generasi ke generasi. Contoh kearifan lokal Bali yang tidak berwujud yakni ajaran Tri Hita Karana, Tri Kaya Parisudha, Tat Twam Asi, hingga Menyama Braya.
Salah satu yang menarik dan masih menggaung di masyarakat adalah kearifan lokal menyama braya. Bagi masyarakat Bali, menyama braya dipahami sebagai bingkai pelindung kerukunan hidup masyarakat dari ancaman kehidupan yang individualistis, materialistis dan disintegrasi atau sebagai energi perekat kebersamaan (Widarta,2017). Menyama braya berasal dari istilah nyama, yakni saudara yang memiliki hubungan darah atau kekerabatan, dan braya yang bermakna masyarakat atau komunitas tempat hidup bermasyarakat orang Bali dengan tingkat terkecil adalah banjar. Dalam kearifan lokal menyama braya, masyarakat Bali menganggap orang lain yang bahkan tidak memiliki hubungan sedarah pun sebagai bagian dari keluarga atau komunitas.
Nilai- nilai menyama braya antara lain solidaritas, toleransi, peduli, bertanggung jawab, bekerjasama, saling percaya, tolong menolong dan pastinya menumbuhkan kebersamaan. Perwujudan menyama braya tentunya tak hanya dapat ditemui di Bali, menggalang solidaritas merupakan nilai arif yang pastinya dimiliki daerah manapun. Pemberlakuan physical distancing, work from home (WFH), vaksinasi, hingga aneka himbauan pemerintah lainnya harus terus digalakkan secara menyama braya. Melaksanakan anjuran pemerintah diharapkan dapat memutus rantai penyebaran dan mempercepat pemulihan kondisi pasca wabah.
Seberkas cahaya kian menerangi ditengah pandemi yang masih terus berkobar. Meski pemerintah telah mengambil aneka langkah strategis, komponen lain juga terus bahu membahu memberikan kontribusi. Semua menyama braya, secara solid bergotong royong berupaya meminimalisir dampak dan mengentaskan covid-19. Terutama dari pemuda yang sekarang ini kerap terlihat maju dengan aneka inovasinya. Kaum muda memiliki kapasitas dan kesempatan untuk menciptakan lingkungan pemungkin (enabling environment) dalam situasi apa pun, termasuk dalam situasi darurat kesehatan. Pemuda memiliki kecepatan, ketangguhan, kecerdasan, serta jejaring untuk menginisiasi inovasi berbasis teknologi sehingga memudahkan masyarakat bahkan pengambil keputusan atau kebijakan di daerah masing-masing. Kaum muda memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam penanganan Covid-19, baik secara langsung sebagai relawan maupun dengan menyampaikan aspirasi penanganan pandemi dari berbagai lapisan masyarakat kepada pemerintah melalui inisiatif komunitas muda.
Bak menjamur, terus muncul aneka gerakan sosial atas nama kemanusiaan berbalut nuansa kekinian yang memanfaatkan teknologi. Gerakan itu sendiri bertujuan untuk membantu kalangan rentan di masa sulit seperti tenaga medis, pengemudi ojek online, petugas kebersihan, pedagang keliling, serta pekerja berpendapatan tidak tetap lainnya. Beberapa influencer Indonesia ramai- ramai menggalang dana dengan aneka metode. Donasi yang terkumpul bisa mencapai miliaran rupiah dan terkonversi menjadi berbagai bantuan seperti APD, sanitizer, vitamin, masker, dan kebutuhan lainnya. Gerakan alternatif yang semakin populer ini menjadi semangat baru masyarakat dalam menghadapi pandemi.
Beragam komunitas peduli yang digawangi generasi muda pun terus bermunculan. Menjadi sukarelawan dan menginisiasi aneka macam gerakan sosial. Seperti contohnya aksi solidaritas masyarakat anti fitnah Indonesia (Mafindo) yang memiliki misi melawan hoax dan ujaran kebencian terutama di tengah pandemi. Ada juga kisah Ariyo Faridh Zidni yang mendongeng guna menghibur kaum- kaum gabut akibat lama tak keluar rumah. Ada Bambang Bayu Febbyanto bersama Local Enablers Community (LEC) mendampingi 120-an pengusaha UKM yang terdampak pandemi. Serta masih banyak aksi positif lainnya di seluruh pelosok Indonesia (Janu, 2020).
Akun- akun dengan pesan positif kian mengembara di media sosial. Menyuarakan pentingnya kesehatan mental, informasi sehari- hari, dan bahkan berbagai webinar gratis mengangkat berbagai topik agar tetap produktif di tengah pandemi. Aksi- aksi sosial yang bertujuan memberikan semangat dan wadah positif terutama bagi generasi muda untuk saling menjaga sesama. Makin berkembangnya akun curhat untuk memberi bantuan psikologis bagi mereka yang dilanda kecemasan, takut ataupun khawatir akibat pandemi. Hal- hal semacam itu menjadi contoh sederhana kepedulian, implementasi menyama braya di tengah masyarakat.
Masyarakat harus tetap terintegrasi meskipun menghadapi berbagai tantangan, salah satunya fenomena Covid-19 saat ini. Meskipun melakukan physical distancing, masih banyak cara aman untuk dapat saling merangkul melalui berbagai aspek. Mari bersama menyama braya! Jangan sampai kepanikan dan individualistis justru menjadi pandemi baru yang turut membunuh masyarakat.

*Luh Putu Ega Suratningtyas
Penulis adalah mahasiswaProgram Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis, Dwijendra University

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *