Meningkatkan Nilai Tambah Produk yang Dihasilkan Petani

oleh -787 views
Odilia Kristiana Adar, Mahasiswa Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian dan Bisnis, Dwijendra University

Pembangunan pertanian yang dilakukan saat ini tidak dapat dikatakan berhasil jika pendapatan dan kesejahteraan para petani masih tetap rendah. Misalnya, peningkatan produktivitas pertanian telah semakin gencar dilakukan oleh pemerintah terutama di tingkat petani melalui berbagai kegiatannya seperti penyuluhan dan pelatihan-pelatihan di tingkat petani dan kelompok petani. Namun, tidak jarang terjadi bahawa produktivitas tanaman sudah tinggi tetapi tidak memberikan jaminan bagi para petani untuk meningkatkan pendapatannya karena beberapa alasan seperti faktor harga (saat panen raya), kualitas dan tingkat preferensi konsumen. Petani pada saat tersebut memperoleh harga yang tidak diharapkan sehingga tetap saja mereka gigit jari.

Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya pendekatan yang lebih fokus, misalnya pendekatan agribisnis berbasis komoditas tertentu yang dihasilkan oleh petani. Artinya bahwa berbagai aktivitas baik sebelum produksi sampai pada pascapanen harus dibuat secara terintegrasi.  Upaya ini sangat erat kaitannya dengan syarat pokok dalam pembangunan pertanian yang sangat membutuhkan adanya pasar, transportasi, teknologi, ketersediaan sarana produksi dan alat serta mesin pertanian dan perangsang produksi. Kelima syarat pokok ini harus berjalan secara bersama-sama antara para pelaku pertanian baik para petani dan bukan petani, seperti pengusaha pertanian, penyuluh pertanian, pemerintah, akademisi, Lembaga keuangan dan lain sebagainya.

Pemerintah sebagai pembuat regulasi agar benar-benar menciptakan lingkungan yang kondusif untuk terbangunnya sistem agribisnis yang menjamin peningkatan pendapatan dan kesejahteraan para petani melalui peningkatan produktivitas lahan dan tanaman serta peningkatan nilai tambah produknya. Dalam konteks agribisnis, peningkatan nilai tambah sebenarnya memperlakukan konsep 4 guna, yaitu guna bentuk, guna waktu, guna tempat dan guna milik. Misalnya, pada saat produk buah diubah bentuknya, misalnya buah salak diubah menjadi dodol, wine atau bentuk lainnya, maka akan memberikan nilai tambah yang semakin tinggi, dan selanjutnya meningkatkan pendapatan petani. Demikian juga halnya dengan guna yang lainnya. Peningkatan kesejahteraan petani akan memberikan dampak yang sangat kompleks trerhadap perputaran arus ekonomi baik di perdesaan maupun di perkotaan. Ini berarti bahwa pendapatan petani yang meningkat akan meningkatkan pula daya belinya atau tingkat konsumsinya.

Odilia Kristiana Adar
Mahasiswa Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian dan Bisnis
Dwijendra University

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *