Peningkatan Jiwa Kewirausahaan Petani di Lahan Sempit

oleh -1.450 views
Marianus Tecan

Dalam kaitannya dengan agribisnis perkotaan, pertanian bukanlah hanya proses produksi (on farm) semata tetapi juga menyangkut aspek off farm yang meliputi pengolahan dan pemasaran serta distribusi. Namun, belum banyak petani yang memiliki kapasitas untuk memasuki aktivitas pada off farm tersebut karena terbatasnya jiwa kewirausahaan karena sebagian besar petani memiliki tingkat pendidikan formal yang rendah. Jiwa kewirausahaan petani merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan agribisnis atau usahatani di lahan sempit, seperti di wilayah perkotaan dan sekitarnya. Kondisi ini menjadi landasan bagi petani untuk memperoleh manfaat ekonomis terhadap usahatani yang dikelolanya. Apalagi dalam situasi pandemic Covid 19.
Adanya jiwa kewirausahaan ini akan menjadi pelengkap dari teknologi budidaya pertanian yang diintroduksi dan diaplikasikan oleh petani serta pengelolaan sumber daya finansial baik yang dimiliki oleh petani maupun dari pihak luar. Beberapa manfaat yang diperoleh dengan adanya jiwa kewirausahaan ini adalah petani dapat memiliki kemampuan afektif (soft skill) dalam mengelola dirinya sendiri (intrapersonal skill) dan menjalin jaringan dengan pihak lain (interpersonal skill). Harapannya adalah petani dapat mengembangkan potensi dan peluang bisnis serta memperoleh nilai tambah terhadap produk yang dihasilkannya guna meningkatkan pendapatannya.
Upaya yang dapat dilakukan untuk menciptakan jiwa kewirausahaan pada petani dapat dilakukan oleh pemerintah selain lembaga lain. Memperhatikan karakteristik para petani, maka pendekatan yang dilakukan melalui penyuluhan dan pelatihan. Sasaran dari kegiatan ini adalah para petani yang sudah tua dan juga yang masih muda dengan metode pembelajaran yang tepat cara. Para petani dibekali dengan berbagai informasi pasar produk-produk pertanian yang memiliki pangsa pasar dan nilai ekonomis tinggi. Selain itu, teknik pengelolaan atau manajemen usahatani serta perhitungan usahatani perlu dijadikan materi di dalam pengembangan kewirausahaan di tingkat petani.
Melalui pengetahuan tersebut diharapkan mereka dapat kapasitas yang tinggi di dalam menentukan pilihan usahatani yang menguntungkan dengan memperhatikan berbagai resikonya. Bagi pemerintah, mengawali pengembangan jiwa kewirausahaan di tingkat petani berlahan sempit dapat dilakukan dengan memberikan insentif seperti penyediaan benih atau bibit yang unggul. Mereka juga dapat didorong dan difasilitasi untuk mengadakan kemitraan usaha dengan pasar melalui kelompok-kelompoknya.
Pada jangka menengah dan panjang, pengembangan jiwa kewirausahaan dalam usahatani di lahan sempit dapat diarahkan kepada generasi muda. Pengembangan ini diawali sejak usia dini, misalnya pengenalan pertanian, jenis usahatani di lahan sempit bagi anak-anak sekolah dasar dan menengah, selain teknologi budidaya pertanian yang sederhana. Upaya ini sangat penting di dalam mengantisipasi tantangan terhadap menurunnya generasi muda yang cendrung meninggalkan pertanian. Padahal lahan sempit merupakan suatu potensi yang unggul di dalam pengembangan usahatani komersial karena pasarnya senantiasa cendrung meningkat.

*Marianus Tecan
Penulis adalah mahasiswa Semester 4 Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian dan Bisnis, Dwijendra University

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *