Lahan Sempit Jangan Hanya Dipandang sebagai Masalah

oleh -1.576 views
Maria Asni Inda

Menyusutnya lahan pertanian khususnya sawah di Indonesia, termasuk provinsi Bali seperti di Kota Denpasar dan kota-kota lainnya menjadi suatu fakta yang tidak dapat dibantah lagi. Tidak sedikit peneliti dan pengamat menyebutkan bahwa lahan sawah yang semakin menyusut dapat mengurangi secara signifikan terhadap jumlah produksi seperti beras. Kondisi ini sangat sulit untuk dihindarkan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dengan pesatnya pembangunan di luar sektor pertanian selain pertumbuhan penduduk. Ke depan, kondisi lahan yang kian menyusut dan menjadi sempit perlu dipandang sebagai suatu potensi dalam pembangunan pertanian.
Potensi yang terkandung di atas lahan yang sempit tersebut adalah menjadi tantangan bagi kita bersama baik dari kalangan mahasiswa di perguruan tinggi, pemerintah dan para petani termasuk stakeholder lainnya untuk mengusahakan lahan tersebut. Beberapa potensi dan tantangan tersebut adalah pilihan teknologi berproduksi dan memberikan peluang nilai ekonomis yang tinggi. Pilihan teknologi yang dimaksud adalah adanya berbagai alternatif usaha seperti pengembangan usahatani hortikultura, seperti tanaman sayuran dan bunga selain kegiatan produksi pertanian dalam arti luas.
Permintaan terhadap produk sayuran dan juga bunga relatif sangat tinggi baik untuk konsumen masyarakat luas dan juga wisatawan domestik dan manca negara. Beberapa jenis sayuran yang dapat diusahakan pada lahan dengan areal sempit di antaranya adalah bayam cabut, sawi, bawang merah, bawang putih, cabe, kacang panjang dan lain sebagainya. Secara ekonomis, produk-produk tanaman sayuran memberikan keuntungan yang tinggi bagi para petani. Tentunya, usahatani sayuran di lahan yang sempit ini harus disertai dengan introduksi dan aplikasi teknologi budidaya yang intensif. Pilihan bibit tanaman yang unggul dan teknik budidaya yang benar sangat dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang maksimal. Teknologi yang dibutuhkan juga adalah integrasi komoditas baik antar tanaman, dengan ternak termasuk dengan ikan atau teknologi diversivikasi pertanian.
Selain tanaman sayuran, tanaman bunga juga memberikan peluang ekonomis yang menguntungkan bagi petani. Permintaan terhadap bunga-bungaan adalah sangat tinggi untuk kebutuhan sarana upacara ritual sehari-hari maupun pada hari-hari tertentu. Kebutuhan yang tinggi ini juga senantiasa diiringi dengan harga yang secara ekonomis layak bagi penerimaan para petani. Oleh karena itu, lahan yang sempit tidak lagi menjadi suatu masalah tetapi merupakan potensi yang dapat dikembangkan. Pengembangan usahatani di lahan sempit ini tidak dapat dilepaskan dari proses alih teknologi dari pemerintah atau institusi lain seperti perguruan tinggi dan swasta.
Secara umum usahatani di lahan sempit tersebut khususnya di wilayah perkotaan dikenal dengan sebutan urban farming yang meliputi kegiatan produksi bertani, beternak, perikanan yang bertujuan untuk memenuhi konsumsi masyarakat di perkotaan dan sekitarnya. Selain menyediakan produk, kegiatan urban farming ini memiliki fungsi ekologis dan hiodrologis untuk lingkungan perkotaan. Pengelolaan usahatani di lahan sempit sangat memerlukan adanya jiwa entrepreneurship yang kuat dari para petani sehingga mampu memanfaat potensi lahan sempit yang dikuasainya.

*Maria Asni Inda,
Penulis adalah mahasiswa semester IV di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Dwijendra University

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *